Just another WordPress.com site

psikodiagnostik

TES GRAFIS SEBAGAI ALAT PSIKODIAGNOSTIK
Pendahuluan
Dalam dekade terakhir, pemeriksaan psikologi mempunyai pengaruh besar pada
kehidupan manusia Indonesia. Kebanyakan dari mereka yang bersekolah, masuk
perguruan tinggi, melamar pekerjaan, ikut seleksi untuk menduduki jabatan
tertentu, pernah mengikuti suatu pemeriksaan psikologi. Pemeriksaan psikologi
yang mereka jalani tidak selalu sama, tergantung dari tujuan pemeriksaan dan alat
pemeriksaan yang digunakanpun berlainan. Misalnya siswa Taman Kanak-kanak
menjalani pemeriksaan psikologi agar dapat diketahui kesiapan anak untuk
mengikuti pelajaran di Sekolah. Tes yang berbeda dipakai untuk siswa kelas I
Sekolah Menengah Umum yang bertujuan untuk menentukan apakah yang
bersangkutan lebih sesuai untuk jurusan A1, A2, A3 atau A4.
Dengan semakin meningkatnya penggunaan jasa psikologi dalam berbagai bidang,
maka tidaklah mengherankan apabila muncul banyak biro psikologi dan
meningkatnya peminat untuk mengikuti pendidikan psikologi karena psikologi
kini dianggap sebagai lahan yang dapat memberikan penghasilan yang layak.
Untuk berbicara lebih jauh tentang psikologi dan tes psikologi, kita perlu
meninjau sejarahnya.
Sebenarnya psikologi sebagai suatu ilmu baru berkembang di abad ke 19 di Eropa,
walaupun sudah sejak jaman dulu Plato dan Aristo telah menulis tentang adanya
perbedaan-perbedaan individual. Para ilmuan Jerman-lah yang mulai
mengembangkan ilmu psikologi pada akhir abad 19, yaitu Fechner, Wundt,
Ebbinghaus dan sebagainya. Penelitian-penelitian yang dilakukan para psikiater
dan psikolog perancis di bidang gangguan-gangguan mental mempengaruhi
perkembangan tehnik-tehnik assessment Klinis dan tes dan ini berakibat pada
pengembangan tes prestasi dan skala psikologi yang dibakukan.
Ilmuan lainnya yang terlibat dalam pengembangan alat ukur psikologi yang
dianggap menonjol pada jaman itu adalah Galton dari Inggris, Cattell dari
Amerika dan Binet dari Perancis.
Pionir lainnya adalah Spearman yang mengembangkan teori tes, Terman yang
mengembangkan tes kecerdasan sedangkan Woodworth dan Rorschach
mengembangkan tes kepribadian. Edward Strong berkecimpung dalam
pengembangan tes minat.
Dengan terjadinya Perang Dunia I, sekelompok psikolog di Amerika Serikat
mengembangkan tes untuk mengukur kemampuan mental, khususnya tes
inteligensi untuk ribuan tentara Amerika selama Perang Dunia I dan sesudahnya.
Tes ini dikenal dengan Army Alpha untuk yang berpendidikan dan Army Beta
untuk yang tidak berpendidikan. Tes yang dikembangkan Woodworth adalah
inventori kepribadian yang pertama dibakukan dan digunakan dalam seleksi
tentara, dikenal sebagai Personal Data Sheet.
Sejak tahun 1920-an bidang testing psikologi berkembang dengan pesat dan kini
ratusan tes psikologi dibuat dan dijual, terutama di negara-negara barat. Untuk
mengetahui tes apa saja dan apa tujuan tes tersebut, dapat ditelusuri melalui
berbagai katalog yang diterbitkan instansi-instansi penjual tes. Makalah ini
memberikan sedikit gambaran tentang tes psikologi terutama tes grafis yang
banyak dipakai dalam pemeriksaan psikologi di Indonesia.
Klasifikasi Tes
Apabila kita ingin menggunakan suatu tes tertentu, perlu diketahui secara
mendalam tes tersebut, yaitu:
– Tujuan tes tersebut
– Tes dapat diberikan secara individual atau kelompok
– Standardisasi tes : norma, validitas, reliabilitas
– Tes obyektif atau non-obyektif
– Administrasi tes
– Latar belakang teoretik tes tersebut
– Apakah tes sesuai untuk digunakan di Indonesia
Tanpa penguasaan yang mendalam tentang tes yang digunakan disamping latar
belakang teoretik (psikodinamika) yang memadai, maka hasil tes berupa angka
atau grafik dan sebagainya tidak akan bermanfaat banyak, bahkan ada
kemungkinan terjadinya kesalahan dalam analisis sehingga akan merugikan si
pemakai jasa.
Ratusan tes psikologi yang kini diperjual-belikan dapat dimasukkan dalam
kelompok-kelompok menurut tujuan atau sifatnya.
1. Tes Individual dan tes kelompok
Tes individual adalah tes yang diberikan perorangan yaitu tester
berhadapan dengan testee, misalnya tes Rorschach, Stanford Binet
Intelligence Test dan Wechsler Bellevue Intelligence Scale. Tes kelompok
diberikan tester pada sekelompok testee, misalnya Progressive Matricee-
60 dari Raven dan Tes Kode.
2. Sekelompok Speed & Power test, yang didasarkan atas batas waktu tes.
Speed test terdiri dari banyak soal yang mudah akan tetapi waktu sangat
dibatasi sehingga hampir tidak ada yang selesai dalam batas waktu yang
diberikan. Sedangkan power test adalah kebalikan dari speed test. Tes ini
terdiri dari banyak item yang sukar.
3. Kelompok tes obyektif dan non-obyektif, yang didasarkan atas sistem
penilaian. Suatu tes obyektif mempunyai standar penilaian yang obyektif
yang sudah ditentukan. Seorang bukan psikologpun dapat melakukan
penilaian tetapi tidak dapat melakukan interpretasi. Sebaliknya, melakukan
penilaian terhadap tes essay dan berbagai macam tes kepribadian
seringkali bersifat subyektif dan 2 orang penilai akan memberikan hasil
yang mungkin berbeda.
4. Klasifikasi lain yang disesuaikan dengan isi atau proses adalah kelompok
tes kognitif dan tes afektif. Tes kognitif mengukur proses-proses dan hasil
kemampuan mental (kognisi) dan seringkali disebut sebagai tes prestasi
dan bakat. Suatu tes prestasi menjaring pengetahuan subyek tentang topik
tertentu dan terfokus pada perilaku yang telah lalu, yaitu apa yang pernah
dipelajari dan dicapai. Bedanya dengan tes bakat adalah bahwa tes bakat
memusatkannya pada perilaku yang akan datang yaitu kemampuan subyek
untuk belajar dengan latihan yang sesuai. Misalnya : tes untuk bakat
mekanis dan klerikal dikembangkan untuk menarik manfaat dari latihan
lebih lanjut dalam tugas-tugas mekanis dan klerikal. Tetapi sebenarnya
prestasi dan bakat tidak dapat dipisahkan karena apa yang telah dicapai
seseorang di masa lalu biasanya merupakan indikator cukup baik untuk
sesuatu yang diharapkan di masa mendatang.
Berbeda dengan kelompok diatas adalah kelompok tes afektif yang
dirancang untuk menjaring minat, sikap, nilai, motif, ciri-ciri temperamen
dan aspek-aspek non-kognitif dari kepribadian. Berbagai tehnik diciptakan
untuk menjaring tujuan ini, misalnya observasi perilaku, inventori dan
tehnik proyektif.
Istilah proyeksi diperkenalkan Lawrence Frank (1939) untuk rangsangrangsang
yang tidak jelas dan terhadap rangsang-rangsang inilah subyek
memproyeksikan kebutuhan dan keadaan dalam dirinya. Tehnik proyeksi
biasanya terdiri dari rangsang yang tidak terlalu berstruktur dan subyek
diminta untuk memberi tanggapan terhadap rangsang-rangsang yang
diajukan. Justru karena tes proyeksi tidak terlalu berstruktur dalam isi dan
terbuka untuk jawaban-jawaban subyek maka jawaban-jawaban
mencerminkan persepsi subyek tentang lingkungannya. Ini juga berarti
bahwa semakin tidak terstrukturnya tugas, semakin besar kemungkinan
bahwa jawaban-jawaban yang diberikan subyek mengandung faset-faset
penting dari kepribadian subyek. Menurut para penganjur tehnik ini, tes
proyeksi dapat menjangkau lapisan-lapisan yang lebih dalam dari
kepribadian, yaitu yang tidak disadari subyek. Namun kekurangan dari
tehnik inipun ada, yaitu:
1. Tidak se-obyektif dan seakurat tes kognitif
2. Tidak terstrukturnya rangsang memberi kesulitan dalam
membuat penilaian
3. Akibat masalah penilaian, kebanyakan tehnik proyeksi tidak
memenuhi standar konvensional dari validitas dan reliabilitas
Untuk mengatasi penilaian yang ”kurang tepat” terhadap hasil tes
proyektif, dibutuhkan banyak latihan dan kepekaan psikolog. Disamping
itu diperlukan pengetahuan yang mendalam tentang psikoanalisa dan teoriteori
psikodinamik lainnya yang menjadi latar belakang kebanyakan testes
proyeksi. Salah satu kelompok tes proyeksi adalah tes grafis yang
dibicarakan berikut ini
Tes Grafis
Tehnik proyeksi yang dipakai tes grafis ini seringkali disebut sebagai tehnik
ekspresif. Yang banyak dikenal dan banyak dipakai oleh para psikolog Indonesia
adalah:
– Gambar Orang (Graw a Person Test)
– Gambar Pohon (Draw a tree Test)
– Tes Wartegg
Tes grafis disebut juga sebagai paper and pencil test karena hanya melibatkan 2
bahan tersebut dan dianggap sebagai tes yang sederhana dan murah. Sederhana
karena tugas yang diberikan tidak rumit, mudah dimengerti subyek dan waktu
pengerjaan tidak lama. Murah karena hanya melibatkan beberapa lembar kerja
HVS 70gr ukuran A4 dan sebatang pinsil HB.
1. Gambar Orang (Draw a Person Test)
Ada beberapa versi dari Tes Gambar Orang, yaitu versi Goodenough yang
biasanya dipakai untuk memperoleh nilai I.Q Versi ini kemudian
dikembangkan Harris sehingga dikenal sebagai Draw a Person Tes versi
Goodenough-Harris. Apabila pada versi Goodenough subyek hanya
menggambar 1 figur saja maka pada versi Goodenough Harris, subyek diminta
untuk menggambar 3 figur, yaitu figur laki, perempuan dan figur diri. Pada
dua tes ini, figur yang digambar diberikan penilaian kuantitatif, misalnya
kepala diperoleh nilai : 1; mata diberi nilai 1; ada pupil diberi nilai 1 dan
seterusnya sehingga diperoleh skor total. Skor total ini masih diolah lebih
lanjut sehingga akhirnya memunculkan nilai IQ.
Berbeda dengan yang disebut diatas adalah versi Machover yang tidak
memberikan penilaian kuantitatif tetapi kualitatif.
Versi Machover ini dilandasi teori Psikoanalisa.
Figur manusia yang digambar dianggap sebagai persepsi si penggambar
tentang dirinya dan bayangan tubuhnya. Walaupun gambar-gambar yang
dibuat subyek biasanya merupakan bayangan tubuh dan konsep dirinya,
tetapi perubahan-perubahan dalam sikap dan suasana hati karena situasi
juga dinyatakan disini.
Seringkali dipertanyakan, mengapa figur manusia yang digambar dan
bukan figur lain? Jawabannya adalah sebagai berikut, yaitu figur manusia
adalah yang paling dikenal, yang paling dekat dengan dirinya sehingga ia
dapat menggambar berdasarkan pengalaman-pengalamannya.
Administrasi tes tidaklah sukar. Persyaratan untuk tes adalah 2 lembar
kertas HVS 70 mgr ukuran A4 dan 1 pinsil HB, penghapus. Perhatikan
agar tidak menggunakan alas karton atau buku. Alas untuk menggambar
harus keras dan licin
Instruksi adalah : Gambarlah orang
Apabila subyek sudah selesai dengan gambarnya, maka diberikan kertas
lain lalu diberi instruksi:
”Sekarang gambarlah figur dengan jenis kelamin lain dari yang tadi
digambar”
Selama subyek mengerjakan tes, tester membuat observasi dan mencatat
semua pernyataan verbal subyek, komentar yang diberikan, cara ia
menggambar, figur dengan jenis kelamin mana yang digambar terlebih
dahulu, berapa lama ia menggambar?
Setelah subyek selesai menggambar, tester melakukan asosiasi, yaitu
meminta subyek untuk membuat cerita tentang figur yang digambarnya.
Dalam tes kelompok, sukar membuat asosiasi karena waktu yang tersedia
terbatas. Disamping itu hanya 1 figur saja yang digambar. Waktu
pelaksanaan dalam tes kelompok juga dibatasi, yaitu 10 menit.
Prinsip interpretasi.
Pada waktu kita menghadapi lembar kertas dengan hasil karya subyek
berupa figur manusia, maka seolah-olah kita berhadapan langsung dengan
si penggambarnya. Kita akan mendapat kesan pertama tentang gambar
tersebut. Dalam analisis selanjutnya, kita berpegang pada 3 hal yaitu :
ruang ; gerak dan bentuk.
Ruang adalah : Posisi figur diatas kertas, apakah ditempatkan ditengah,
kiri, kanan, atas atau bawah?
Gerak adalah : Bagaimana pinsil diatas kertas bergerak membentuk figur
manusia. Ini mencakup tenakan pinsil, cara subyek
membuat garis dan bayangan.
Bentuk adalah : Bagaimana proporsi figur, apa yang digambar, elaborasi,
detail, distorsi, ada yang tidak digambar dan sebagainya.
Disamping itu masih perlu dipertimbangkan fungsi
anggota tubuh yang mendapat penekanan. Penekanan
dapat berupa tambahan shading, hapusan, berulangkali
diperbaiki, dipertebal, garis pada bagian tertentu berbeda
dengan garis secara keseluruhan, lebih mendetail dan
sebagainya. Adanya anggota tubuh yang tidak
digambarpun perlu ditertimbangkan. Penekanan dibagian
tertentu dari figur manusia menunjukkan adanya konflik
pada bagian tersebut dan karena itu perlu diketahui fungsi
dari berbagai bagian/organ tubuh.
Kepala : Dianggap sebagai tempat kegiatan intelek dan fantasi dan
diasosiasikan dengan kontrol impuls dan emosi, kebutuhan
sosialisasi dan komunikasi. Maka dikatakan bahwa orang yang
menarik diri, neurotik tidak memberi banyak perhatian pada
kepala.
Bagian-bagian kepala berfungsi sebagai sumber utama dari
kepuasan dan ketidak puasan sensoris disamping sebagai alat
komunikasi. Mata, telinga dan mulut merupakan organ yang
diperlukan dalam berhubungan dengan lingkungan, sehingga
perlakuan yang berlebihan menunjukkan kemungkinan
kecemasan yang berhubungan dengan fungsi-fungsi organ-organ
tersebut.
Leher : Leher merupakan penghubung antara kepala dan badan,
merupakan penghubung, dalam bahasa psikoanalisis antara
super-ego, ratio, dan id, impuls, dorongan. Pada umumnya bila
leher mendapat penekanan maka menunjukkan kemungkinan
pemikiran subyek mengenai kebutuhannya untuk mengontrol
impuls-impuls yang dirasakannya mengancam.
Badan : Badan, khususnya ”trunk” diasosiasikan dengan dorongandorongan
dasar. Subyek biasanya cenderung menggambar figur
yang mirip dengan keadaan tubuhnya sendiri. Anak seringkali
menggambar ”trunk” secara sederhana, persegi-empat atau
lonjong. Tidak adanya bagian tubuh yang penting (kecuali pada
anak) menunjukkan kemungkinan gangguan psikologis yang
serius.
Bahu : Perlakuan terhadap bahu dianggap sebagai pernyataan dari
perasaan kebutuhan akan kekuatan fisik. Orang normal akan
menggambar bahu dengan jelas sedangkan orang dengan rasa
rendah diri karena fisik yang kurus dan kecil akan menggambar
figur dengan sebelah bahu lebar. Tidak adanya bahu terkadang
dikatakan sebagai kemungkinan skizofreni atau kondisi
kerusakan otak.
Lengan dan tangan:
Kondisi lengan dan penempatannya, yaitu menjauh dari tubuh
atau melekat pada tubuh menunjukkan hubungan subyek dengan
lingkungannya. Maka lengan yang ditaruh dipunggung sehingga
hanya sebagian saja yang tampak, menunjukkan keengganan
subyek untuk berhubungan dengan orang. Tangan yang
dimasukkan ke dalam saku, atau tangan yang tidak tampak,
diassosiasikan dengan konflik dan perasaan-perasaan bersalah
yang berhubungan dengan kegiatan tangan tersebut.
Tungkai kaki dan kaki:
Figur dengan perlakuan tidak biasa terhadap kaki atau tungkai
kaki berhubungan dengan perasaan aman atau tidak aman.
Tungkai kaki merupakan serana bergerak dan perlakuan terhadap
bagian ini mencerminkan perasaan seseorang mengenai
mobilitas.
2. Gambar Pohon
Gambar pohon dikembangkan oleh Karl Koch
Administrasi tes:
Persyaratan : Kertas HVS 70mgr ukuran A4, pinsil HB, tidak pakai penghapus,
alas menggambar harus licin dan keras, waktu tidak dibatasi (kecuali tes
kelompok)
Instruksi : ”Gambarlah pohon”
”Kecuali : pohon cemara, randu, kelompok palma, bambu”
Apabila ada kesan bahwa gambar yang dibuat tidak memenuhi persyaratan, maka
subyek diberi kertas baru dan diberi instruksi: ”Gambarlah pohon lain dari yang
telah anda gambar”.
Seringkali muncul pertanyaan : Mengapa justru gambar pohon? Apabila kita
melihat tanaman yang mempunyai sistem terbuka yaitu dengan pertumbuhan yang
menuju keluar, segala sesuatu terjadi di permukaan, dibentuk dibawah kulit dan
ujung-ujung tunasnya. Hanya pohon yang memperlihatkan hal ini. Maka
dikatakan bahwa ”Keberadaan” tanaman adalah gerakan hidup keluar, usaha
menjauhi zone pertumbuhan pusat. Pohon tidak pernah berhenti berkembang, ia
tumbuh sempurna, selalu muda-berbunga berbuah sampai mati. Berbeda dengan
manusia atau binatang yang merupakan sistem yang tertutup. Hidup fisik
diarahkan kedalam. Semua organ sudah ada sejak awal dan dalam tubuh semua
organ diberi makanan (darah) oleh kekuatan yang sama, seumur hidup. Dalam
eksistensi manusia segala sesuatu bergerak ke dalam dan dikendalikan organorgan
pusat. Gambar pohon yang dibuat manusia merupakan sekresi dari yang ada
di dalam. Gerak keluar menjadi bentuk yang menyerupai manusia, namun dengan
sifat-sifat yang berbeda dalam ”inner being”nya. Ini yang dikatakan sebagai
proyeksi dari psyche.
Prinsip interpretasi.
Sama halnya dengan tes gambar orang, pada waktu kita menghadapi hasil karya
subyek, maka seolah-olah kita berhadapan dengan subyek. Bagaimana kesan
pertama yang kita peroleh? Juga dalam analisis selanjutnya kita berpegang pada 3
hal, yaitu : ruang, gerak dan bentuk (lihat halaman 7).
Dengan bentuk tentunya bukan lagi proporsi figur, akan tetapi proporsi pohon,
bagaimana perimbangan antara mahkota dan batang? Kemudian dilihat pohon apa
yang digambar dan apa yang digambar. Kadang-kadang ada pohon yang tidak
lengkap, yang dapat disebabkan beberapa hal yaitu: belum selesai, artinya ada
pembelokan tidak dapat diselesaikan, berarti adanya hambatan.
Dalam membuat analisis, harus dilihat terlebih dahulu: usia si penggambar,
sesuaikah untuk usianya dan bila tidak? Kemudian perlu diketahui pendidikan dan
dari mana subyek berasal. Ini perlu diketahui karena bila pada orang dewasa ada
sekelompok ciri yang biasa ditemukan pada tahap usia yang lebih muda yang
dapat dikatakan normal untuk tahap usia tersebut maka ada beberapa
kemungkinan yang perlu dipertimbangkan yaitu retardasi perkembangan,
manifestasi keadaan-keadaan infantil atau regresi.
Untuk dapat menentukan salah satu kemungkinan diperlukan pengalaman dan
membandingkan berbagai gambar pohon dari berbagai kelompok usia.
Selanjutnya dilihat bagaimana subyek menggambar bagian-bagian pohon, yaitu:
Akar : Berfungsi untuk menghisap makanan dan berpegangan pada tanah agar
tidak tumbang. Akar dapat digambar dengan 2 cara, yaitu akar 1 garis dan akar 2
garis. Akar 1 garis biasanya dibuat anak sedangkan akar 2 garis dibuat orang
dewasa. Namun akar 2 garis dapat dibuat sebagai akar tertutup dan akar terbuka.
Pangkal batang : Dapat digambar lebar di kiri dan kanan, sebelah kiri saja lebih
lebar atau sebelah kanan saja lebih lebar. Pelebaran ke kiri atau ke kanan atau
pada bagian kiri dan kanan berarti adanya inhibisi/hambatan.
Batang pohon : dapat digambar dengan 1 garis dan 2 garis. Ada berbagai bentuk
batang, misalnya batang bentuk kerucut yang biasa digambar anak sekitar usia 8-9
tahun, anak debil atau orang dewasa yang mengalami regresi. Batang dapat pula
dibuat dengan 2 garis lurus paralel, batang yang bergelombang serasi atau batang
yang menggelembung, jadi ada penebalan dan konstriksi. Penebalan berarti
penimbunan sedangkan konstriksi berarti hambatan, jadi apa yang ditimbun dan
apa yang dihambat?
Apabila kita kembali pada simbolik batang yairu energi, dorongan, maka
penimbunan dapat berarti energi. Permukaan batang:
Secara fisiognomis, permukaan batang berarti ke arah hubungan individu dengan
lingkungan secara emosional dan afektif, yaitu bagaimana individu
lingkungannya. Ini berarti penyesuaian diri, kehidupan afek, defense mechanisme
diri. Penampilan coretan tajam dan berkesan keras dapat diartikan sebagai berikut
: sesuatu yang keras biasanya tahan pukulan tetapi pukulan yang keras sekali akan
mengakibatkan patah. Jadi sifat yang keras dan sikap yang keras bila terlalu
ditekan, akan patah. Coretan yang begolombang menunjukkan sikap kontak yang
emosional, artinya perasaan memegang peranan penting sedangkan coretan dalam
bentuk noda-noda yang tampak seperti penyakit kulit. Melambangkan gangguan
dan kontak dengan sesama manusia
Bayangan, merupakan pengisian kertas dengan psinsip supaya lebih gelap dan
dapat diartikan bahwa ada perose emosional pada yang bersangkutan. Perlu
diberhatikan berat-ringannya bayangan yang dibuat, karena bayangan yang dibuat
sengan halus, ringan menunjukkan kepekaan sipenggambar sedangkan bayangan
yang gelap dan berat lebih menunjukan adanya kecemasan.
Dahan, seperti akar dan batang dapat dibuat dengan 1 garis maupun 2 garis.
Dahan yang dipotog dapat diartikan bahwa dalam perkembangan terjadi sesuatu
yang menyangkit segi psikis. Dahan yang dibuat seperti pipa, yaitu terbuka pada
ujungnya pada umumnya menunjukkan taraf perkembangan yang belum
sempurna, dalam arti, dalam sikap sehari-hari belum terlihat kematangan dan
belum dapat membedakan antara diri dan lingkungan.
Mahkota, menggambarkan aktivitas atau proses-proses yang berhubungan dengan
ratio, intelek. Mahkota dapat digambar tertutup maupun terbuka. Perlu
diperhatikan perbandingan antara lebar dan tinggi mahkota depan panjang batang.
Kadang-kadang mahkota diisi dengan dahan yang terpencar tak beraturan,
mahkota disini dengan coretem atau mahkota yang kosong.
3. Tes Warteg
Yang diterangkan dalam makalah ini adalah versi Kinget. Tes Warteg agak
berbeda dengan Tes Gambar Orang dan tes Pohon karena bersifat lebih obyektif,
dalam arti dapat dikauntifikasi, namun juga dapat dilakukan interpretasi kualitatif.
Tes Wartegg berbentuk setengah halaman kertas folio, dicetak, ada 8 kotak
dengan masing-masing satu tanda yang berlainan, kotak-kotak dilingkari garis
hitam tebal.
Persyaratan tes : 1 lembar tes Wartegg
1 pinsil HB
Alas yang keras dan licin
Penghapus (kecuali untuk tes kelompok)
Instruksi:
Pada lembar ini anda melihat 8 kotak. Dalam tiap kotak ada tanda kecil. Tandatanda
ini tidak mempunyai arti khusus. Tanda-tanda ini hanya merupakan bagianbagian
dari gambar-gambar yang anda harus gambar dalam tiap kotak. Anda
boleh menggambar apa saja dan boleh dimulai dengan tanda yang paling disukai.
Anda tidak perlu mengikuti urutan dari tanda-tanda ini tetapi anda diminta
mencantumkan angka pada gambar-gambar yang dibuat secara berurutan. Anda
boleh bekerja menggunakan penghapus tetapi janganlah memutar kertas.
Baru setelah subyek selesai mengambar, ia diminta untuk menulis apa saja yang
digambarnya. Sebelumnya tidak diberikan instruksi untuk menghindari sugerti
bahwa harus berupa lukisan.
Sejak subyek menerima kertas perlu dilakukan observasi tentang apa komentar,
apakah banyak pertanyaan, bagaimana pendekatannya terhadap tes dan bagaimana
pelaksanaannya.
Prinsip interpretasi.
Untuk dapat membuat interpretasi terhadap hasil tes ini, perlu dipahami terlebih
dahulu hal-hal sebagai berikut.
Tes ini mula-mula dikembangkan Krueger dan Sander dari University of Leipzig
dengan latar belakang Ganzheit Psychologie. Kemudian dikembangkan oleh Ehrig
Wartegg dan kemudian oleh Marian Kinget. Tujuannya adalah eksplorasi
kepribadian dalam istilah fungsi-fungsi dasar yaitu: emosi, imajinasi, dinamisme,
kontrol, reality function, yang ada pada semua orang namun dengan intensitas dan
interelasi yang berbeda. Struktur kepribadian tidaklah statis, berubah-ubah dan
menentukan sebagian besar perilaku individu. Maka tehnik eksplorasi juga
melihat cara subyek berfungsi, yaitu apakah normal ataukah abnormal. Maka bila
1 atau beberapa komponen sangat dominan, berarti bahwa struktur tidak
seimbang, jadi fungsi subyek adalah defektif. Misalnya, fungsi kontrol terlalu kuat
maka perilaku akan terhambat, sedangkan bila imajinasi berkembang berlebihan
maka kontak dengan realitas dan fungsi sosialnya terganggu.
Nilai diagnostik terutama terletak pada kemampuan pemeriksa. Pertama perlu
dilihat apakah administrasi tes sudah benar, kedua, apakah subyek mengerti
instruksi yang diberikan? Ketiga, apakah psikolog yang membuat penilaian baik
kuantitatif maupun kualitatif menguasai sistem penilaian?.
Dalam penilaian/analisis, tiap elemen harus dipertimbangkan dalam konteks
seluruh gambar dengan memperhitungkan:
Usia, jenis kelamin, taraf pendidikan, pekerjaan dan mungkin latar belajang
budaya subyek.
Dalam melakukan interpretasi ada 3 tahap yang harus dilakukan yaitu:
1. Stimulus Drawing Relation, yaitu bagaimana hubungan antara rangsang
dengan gambar yang dibuat. Apakah rangsang merupakan bagian dari
gambar atau terlepas dari gambar? SDR merupakan dasar untuk eksplorasi
struktus persepsi dan afektivitas.
2. Vontent atau Isi, merupakan manifestasi dari asosiasi bebas. Gambar
mempunyai isi apabila mewakili sebagian dunia fisik yang dapat dilihat.
Manifestasi asosiasi bebas mengungkapkan pandangan ke orientas yang
lebih kuat dari kecenderungan-kecenderungan, minat dan pekerjaan
subyek dan ini merupakan sumber data proyektif tes.
3. Execution (pelaksanaan)
Bagaimana gambar dibuat? Penuh, kosong?
Adakah ekspansi?
Tes Warteg mencoba untuk mencari tahu pola reaksi yang permanen dari
kepribadian si penggambar. Dari penilaian kuantitatif dapat dibuat suatu profil
kepribadian dalam istilah fungsi-fungsi yaitu emosi, imajinasi, dinamisme, kontrol
dan reality function yang ada pada tiap manusia.
Demikianlah sekilas uraian tentang beberapa tes grafis, semoga dapat mendorong
mahasiswa psikologi untuk mempelajarinya secara lebih mendalam.
Kepustakaan :
1. Diktat Psikodiagnostik-Tes Pohon
1986-Penyusun Hanna Widjaja.
2. Diktat Tes Wartegg-G. Mariam Kinget, Ph.D.
1991-Alih Bahasa-Hanna Widjaja
3. Gambar Orang-Karen Machover
1985-Alih Bahasa- Hanna Widjaja
4. Psychological Testing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: